Demikian dikatakan Kepala Dinas Pendidkan (Kadis) Kota Padang Sidimpuan, Abdul Rosad Lubis, terkait pengaduan yang disampakan masyarakat, beberapa waktu lalu.
''Sekolah yang melakukan pungutan untuk administrasi Penerimaan Siswa Baru (PSB) itu khususnya sekolah negeri mulai dari tingkatan SD, SMP hingga SMA sederajat akan ditindak tegas berupa teguran dan juga bisa pencopotan kepala sekolahnya,'' tegas Rosad Lubis.
Hal ini untuk mengantisipasi dugaan permainan dari kepala sekolah, dengan modus untuk mengambil formulir, orang tua siswa dikenakan biaya sejumlah uang.
Kemudian untuk sekolah negeri masih belum ada dibuka pendaftaran PSB dan kepada masyarakat diimbau untuk tidak mau menjadi korban segelintir oknum yang memintai sejumlah uang agar anaknya bisa dimasukkan ke sekolah yang ditengarai sekolah favorit.
“Saya bahkan ada dengar satu sekolah dasar dan menegah sudah tutup pendaftaran dan tidak menerima siswa lagi, padahal PSB saja belum ada kita dengar sekolah mengutip sejumlah uang untuk mengambil formulir, kita akan cek dulu kebenarannya baru kita tindaklanjuti, tapi begitupun, jika memang benar ada pengutipan, kita minta kepada masyarakat untuk melaporkannya ke Disdik, untuk kita sikapi,” terangnya.
sumber: waspada.co.id
KURSUS WEBSITE SURABAYA, KURSUS WEBSITE DI SURABAYA, KURSUS MEMBUAT WEBSITE SURABAYA, KURSUS MEMBUAT TOKO ONLINE SURABAYA TELP: 0857 33333 923
- HOME
- PROFILE
- VISI MISI
- JARINGAN USAHA
- CONTACT
- ALAMAT
- KURSUS WEBSITE
- LAYANAN
- KURSUS KOMPUTER









Rabu, 01 Juni 2011
Kepsek pungut PSB ditindak
Demikian dikatakan Kepala Dinas Pendidkan (Kadis) Kota Padang Sidimpuan, Abdul Rosad Lubis, terkait pengaduan yang disampakan masyarakat, beberapa waktu lalu.
''Sekolah yang melakukan pungutan untuk administrasi Penerimaan Siswa Baru (PSB) itu khususnya sekolah negeri mulai dari tingkatan SD, SMP hingga SMA sederajat akan ditindak tegas berupa teguran dan juga bisa pencopotan kepala sekolahnya,'' tegas Rosad Lubis.
Hal ini untuk mengantisipasi dugaan permainan dari kepala sekolah, dengan modus untuk mengambil formulir, orang tua siswa dikenakan biaya sejumlah uang.
Kemudian untuk sekolah negeri masih belum ada dibuka pendaftaran PSB dan kepada masyarakat diimbau untuk tidak mau menjadi korban segelintir oknum yang memintai sejumlah uang agar anaknya bisa dimasukkan ke sekolah yang ditengarai sekolah favorit.
“Saya bahkan ada dengar satu sekolah dasar dan menegah sudah tutup pendaftaran dan tidak menerima siswa lagi, padahal PSB saja belum ada kita dengar sekolah mengutip sejumlah uang untuk mengambil formulir, kita akan cek dulu kebenarannya baru kita tindaklanjuti, tapi begitupun, jika memang benar ada pengutipan, kita minta kepada masyarakat untuk melaporkannya ke Disdik, untuk kita sikapi,” terangnya.
sumber: waspada.co.id
''Sekolah yang melakukan pungutan untuk administrasi Penerimaan Siswa Baru (PSB) itu khususnya sekolah negeri mulai dari tingkatan SD, SMP hingga SMA sederajat akan ditindak tegas berupa teguran dan juga bisa pencopotan kepala sekolahnya,'' tegas Rosad Lubis.
Hal ini untuk mengantisipasi dugaan permainan dari kepala sekolah, dengan modus untuk mengambil formulir, orang tua siswa dikenakan biaya sejumlah uang.
Kemudian untuk sekolah negeri masih belum ada dibuka pendaftaran PSB dan kepada masyarakat diimbau untuk tidak mau menjadi korban segelintir oknum yang memintai sejumlah uang agar anaknya bisa dimasukkan ke sekolah yang ditengarai sekolah favorit.
“Saya bahkan ada dengar satu sekolah dasar dan menegah sudah tutup pendaftaran dan tidak menerima siswa lagi, padahal PSB saja belum ada kita dengar sekolah mengutip sejumlah uang untuk mengambil formulir, kita akan cek dulu kebenarannya baru kita tindaklanjuti, tapi begitupun, jika memang benar ada pengutipan, kita minta kepada masyarakat untuk melaporkannya ke Disdik, untuk kita sikapi,” terangnya.
sumber: waspada.co.id
Gelar Simulasi Contek Mencontek Sebelum UN
suarasurabaya.net| Tidak heran jika Al siswa kelas 6 sebuah SDN di Tandes ini diminta wali kelasnya jadi penyuplai bahan contekan bagi seluruh siswa yang ikut Ujian Nasional. Sejak kelas 1 hingga kelas 6, putra sulung pasangan Wid dan Ny. S ini selalu juara kelas. Nilai rata-ratanya tidak pernah kurang dari 9 untuk semua mata pelajaran.
Bahkan dibanding 2 kelas 6 lainnya, pemegang gelar juara satu punya nilai rata-rata 7. Ini jauh di bawah nilai rata-rata Al.
Sejak duduk di kelas 6 SD, orangtua Al memang berkomitmen mendukung anaknya ini agar sukses Ujian Nasional. Dua les tambahan di sekolah diikuti, juga sebuah les privat Bahasa Inggris sepulang sekolah.
Menurut Ny. S saat ditemui suarasurabaya.net, anaknya sudah didoktrin Fat wali kelasnya sejak 3 bulan sebelum Ujian Nasional. Simulasi pun dilakukan sehari sebelum Ujian Nasional berlangsung. ”Latihan mencontek dilakukan 3 kali. Masing-masing sehari sebelum 3 hari Ujian Nasional,” kata dia.
Simulasi dirancang dengan kondisi mirip saat Ujian Nasional. Setiap kelas berisi 20 siswa. Al yang duduk di muka berperan sebagai penyuplai bahan contekan. Penulisan bahan contekan pun, kata Ny. S, juga diajari sang Wali Kelas. ”Misalnya untuk jawaban soal nomor 1 adalah B, maka ditulisnya : 012. Untuk jawaban nomor 2 adalah C, maka ditulis : 023, begitu seterusnya,” kata Ny. S.
Bahan contekan diselundupkan ke teman sebelahnya tanpa diketahui pengawas. Nah, penerima bahan contekan ini punya tugas memperbanyak bahan contekan untuk dibagi ke seluruh kelas. Setelah terdistribusi di satu kelas, ada siswa di kelas itu yang bertugas mendistribusikannya ke kelas lain. ”Distribusi ke kelas lain dilakukan siswa di toilet sekolah. Jadi, kalau ada siswa dari kelas pemberi contekan, seorang siswa di 2 kelas lainnya ijin keluar ke toilet,” kata dia.
Modus operandi contek mencontek ini berlangsung sangat sistematis, sehingga Ny. S mengaku tidak percaya jika ini hanya melibatkan Fat sang wali kelas anaknya.
Aksi ini sempat ketahuan petugas pengawas pada pelaksanaan Ujian Nasional hari kedua. ”Waktu itu mata pelajaran Matematika. Seorang siswi beda kelas dengan anak saya ketahuan mencontek. Bahan contekannya ya dari anak saya itu,” kata Ny. S. Sejak itu pengawasan di dua kelas selain kelas Al pun diperketat.
Anehnya, kata Ny. S, di kelas anaknya, pengawasan masih longgar sehingga sampai akhir Ujian Nasional, operasi contek mencontek di kelas Al masih berlangsung mulus.
Kenapa Sang Wali Kelas mendesak Al untuk memberi contekan ke seluruh siswa kelas 6? Setelah diselidiki oleh Ny. S ternyata diketahui dari beberapa kali hasil try out ada sekitar 15 dari 60 siswa kelas 6 yang nilainya tidak mencukupi untuk dinyatakan lulus. ”Mungkin ini yang menyebabkan contek-contekan ini dilakukan,” kata Ny. S.(edy)
Bahkan dibanding 2 kelas 6 lainnya, pemegang gelar juara satu punya nilai rata-rata 7. Ini jauh di bawah nilai rata-rata Al.
Sejak duduk di kelas 6 SD, orangtua Al memang berkomitmen mendukung anaknya ini agar sukses Ujian Nasional. Dua les tambahan di sekolah diikuti, juga sebuah les privat Bahasa Inggris sepulang sekolah.
Menurut Ny. S saat ditemui suarasurabaya.net, anaknya sudah didoktrin Fat wali kelasnya sejak 3 bulan sebelum Ujian Nasional. Simulasi pun dilakukan sehari sebelum Ujian Nasional berlangsung. ”Latihan mencontek dilakukan 3 kali. Masing-masing sehari sebelum 3 hari Ujian Nasional,” kata dia.
Simulasi dirancang dengan kondisi mirip saat Ujian Nasional. Setiap kelas berisi 20 siswa. Al yang duduk di muka berperan sebagai penyuplai bahan contekan. Penulisan bahan contekan pun, kata Ny. S, juga diajari sang Wali Kelas. ”Misalnya untuk jawaban soal nomor 1 adalah B, maka ditulisnya : 012. Untuk jawaban nomor 2 adalah C, maka ditulis : 023, begitu seterusnya,” kata Ny. S.
Bahan contekan diselundupkan ke teman sebelahnya tanpa diketahui pengawas. Nah, penerima bahan contekan ini punya tugas memperbanyak bahan contekan untuk dibagi ke seluruh kelas. Setelah terdistribusi di satu kelas, ada siswa di kelas itu yang bertugas mendistribusikannya ke kelas lain. ”Distribusi ke kelas lain dilakukan siswa di toilet sekolah. Jadi, kalau ada siswa dari kelas pemberi contekan, seorang siswa di 2 kelas lainnya ijin keluar ke toilet,” kata dia.
Modus operandi contek mencontek ini berlangsung sangat sistematis, sehingga Ny. S mengaku tidak percaya jika ini hanya melibatkan Fat sang wali kelas anaknya.
Aksi ini sempat ketahuan petugas pengawas pada pelaksanaan Ujian Nasional hari kedua. ”Waktu itu mata pelajaran Matematika. Seorang siswi beda kelas dengan anak saya ketahuan mencontek. Bahan contekannya ya dari anak saya itu,” kata Ny. S. Sejak itu pengawasan di dua kelas selain kelas Al pun diperketat.
Anehnya, kata Ny. S, di kelas anaknya, pengawasan masih longgar sehingga sampai akhir Ujian Nasional, operasi contek mencontek di kelas Al masih berlangsung mulus.
Kenapa Sang Wali Kelas mendesak Al untuk memberi contekan ke seluruh siswa kelas 6? Setelah diselidiki oleh Ny. S ternyata diketahui dari beberapa kali hasil try out ada sekitar 15 dari 60 siswa kelas 6 yang nilainya tidak mencukupi untuk dinyatakan lulus. ”Mungkin ini yang menyebabkan contek-contekan ini dilakukan,” kata Ny. S.(edy)
Tak Rela Jadi Sumber Contekan, Beri Jawaban Separuh Salah
suarasurabaya.net| Dalam kepala Al siswa kelas 6 sebuah SD di kawasan Tandes, berkecamuk rasa tidak rela saat Wali Kelasnya meminta dia menyuplai bahan contekan Ujian Nasional pada seluruh siswa kelas 6.
Kegalauan ini dia ceritakan ke Ny. S ibunya, tanggal 16 Mei 2011 atau 4 hari setelah berakhirnya Ujian Nasional. Sambil menangis, Al bercerita jika sesungguhnya dia tidak rela usahanya belajar siang malam, berdoa, dan tirakatan berpuasa Senin-Kamis selama duduk di kelas 6 justru tidak dihargai Wali Kelasnya.
”Dia cerita, kok enak murid-murid lain yang malas tidak mau belajar. Main-main sebelum Ujian Nasional malah dapat nilai bagus. Sementara dia sungguh-sungguh mempersiapkan Ujian Nasional dengan baik,” kata Ny. S.
Karena tidak rela itulah, Al kemudian tidak membuat bahan contekan untuk seluruh siswa kelas 6, sama persis seperti jawabannya. ”Kata anak saya, separuh lebih jawabannya berbeda dengan jawaban dia. Itu sengaja karena dia tidak rela. Sebenarnya dia protes tapi tidak terucapkan ke wali kelasnya,” kata Ny. S.
Dua lembar kertas bertuliskan contekan jawaban soal yang disimpan Al kemudian jadi barang bukti untuk diserahkan pada pejabat Dinas Pendidikan Kota Surabaya, kemarin.(edy)
Kegalauan ini dia ceritakan ke Ny. S ibunya, tanggal 16 Mei 2011 atau 4 hari setelah berakhirnya Ujian Nasional. Sambil menangis, Al bercerita jika sesungguhnya dia tidak rela usahanya belajar siang malam, berdoa, dan tirakatan berpuasa Senin-Kamis selama duduk di kelas 6 justru tidak dihargai Wali Kelasnya.
”Dia cerita, kok enak murid-murid lain yang malas tidak mau belajar. Main-main sebelum Ujian Nasional malah dapat nilai bagus. Sementara dia sungguh-sungguh mempersiapkan Ujian Nasional dengan baik,” kata Ny. S.
Karena tidak rela itulah, Al kemudian tidak membuat bahan contekan untuk seluruh siswa kelas 6, sama persis seperti jawabannya. ”Kata anak saya, separuh lebih jawabannya berbeda dengan jawaban dia. Itu sengaja karena dia tidak rela. Sebenarnya dia protes tapi tidak terucapkan ke wali kelasnya,” kata Ny. S.
Dua lembar kertas bertuliskan contekan jawaban soal yang disimpan Al kemudian jadi barang bukti untuk diserahkan pada pejabat Dinas Pendidikan Kota Surabaya, kemarin.(edy)
Terkuak, Operasi Contek Mencontek UN SD Libatkan Guru di Surabaya
suarasurabaya.net| Tengara adanya praktik curang mencontek pada pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di Surabaya mulai terkuak. Seorang wali murid sebuah SDN kawasan Kecamatan Tandes melaporkan wali kelas anaknya yang diduga merancang kerjasama contek mencontek dengan menggunakan anaknya sebagai sumber contekan.
Ny. S warga Tandes, kemarin melaporkan Fat wali kelas Al anaknya ke kantor Dinas Pendidikan Surabaya. Dia tidak terima anaknya yang sudah mempersiapkan Ujian Nasional sebaik-baiknya malah dijadikan sumber contekan untuk didistribusikan seluruh siswa kelas 6 pada saat digelarnya Ujian Nasional, 10-12 Mei 2011 lalu.
Saat ditemui suarasurabaya.net di rumahnya, Ny. S mengatakan dirinya baru mengetahui kasus ini pada 16 Mei lalu. Itupun karena diberi tahu wali murid lainnya yang mendapat informasi dari anak-anak mereka. ”Saya diberi tahu kalau anak saya yang memasok contekan untuk 3 kelas waktu berlangsungnya UN. Waktu itu saya kaget karena anak saya tidak pernah cerita sama saya,” kata Ny. S.
Diapun menanyakan anaknya. Mulanya tidak mengaku, namun akhirnya sambil menangis, Al pun mengaku. Mendengar pengakuan anaknya ini, Ny. S terkejut bukan kepalang. ”Anak saya cerita, dia sejak 3 bulan sebelum UN sudah dipaksa wali muridnya untuk memberi contekan pada seluruh siswa kelas 6 lainnya,” kata dia.
Doktrinasi pada Al untuk memberi contekan pada siswa lainnya, kata Ny S, dilakukan dengan konsisten. ”Wali muridnya bilang ke anak saya begini : kapan lagi kamu mau membalas budi guru-guru kamu? Apa nggak kasihan dengan teman-temanmu kalau tidak lulus? Kamu harus gunakan kepandaianmu supaya teman-temanmu lulus,” ujar Ny. S menirukan ucapan sang wali kelas pada anaknya.
Mendengar penuturan anaknya, Ny. S mengaku sakit hati dengan wali kelas tersebut dan berusaha mengkonfirmasi pihak sekolah. Dia berkoordinasi dengan walimurid lainnya menemui Kepala Sekolah. Dalam pertemuan itu, Kepala Sekolah hanya menyampaikan permohonan maaf. Ini tidak memuaskan Ny. S. Dia penasaran, apakah skenario contek mencontek ini memang didesain pihak sekolah, atau hanya dilakukan secara pribadi oleh wali murid. ”Tidak ada tindak lanjutnya sejak itu. Saya belum pernah ketemu sama Fat, wali kelas anak saya,” kata dia.
Setelah itu, dia mengadu pada Komite Sekolah, namun tidak mendapat respon memuaskan sehingga akhirnya dia melaporkan masalah ini ke Dinas Pendidikan. ”Saya tidak terima! Saya mendidik anak saya supaya pandai dan jujur. Ini malah sekolah mengajarkan anak saya tidak jujur !” ungkap Ny. S dengan nada tinggi.(edy)
Ny. S warga Tandes, kemarin melaporkan Fat wali kelas Al anaknya ke kantor Dinas Pendidikan Surabaya. Dia tidak terima anaknya yang sudah mempersiapkan Ujian Nasional sebaik-baiknya malah dijadikan sumber contekan untuk didistribusikan seluruh siswa kelas 6 pada saat digelarnya Ujian Nasional, 10-12 Mei 2011 lalu.
Saat ditemui suarasurabaya.net di rumahnya, Ny. S mengatakan dirinya baru mengetahui kasus ini pada 16 Mei lalu. Itupun karena diberi tahu wali murid lainnya yang mendapat informasi dari anak-anak mereka. ”Saya diberi tahu kalau anak saya yang memasok contekan untuk 3 kelas waktu berlangsungnya UN. Waktu itu saya kaget karena anak saya tidak pernah cerita sama saya,” kata Ny. S.
Diapun menanyakan anaknya. Mulanya tidak mengaku, namun akhirnya sambil menangis, Al pun mengaku. Mendengar pengakuan anaknya ini, Ny. S terkejut bukan kepalang. ”Anak saya cerita, dia sejak 3 bulan sebelum UN sudah dipaksa wali muridnya untuk memberi contekan pada seluruh siswa kelas 6 lainnya,” kata dia.
Doktrinasi pada Al untuk memberi contekan pada siswa lainnya, kata Ny S, dilakukan dengan konsisten. ”Wali muridnya bilang ke anak saya begini : kapan lagi kamu mau membalas budi guru-guru kamu? Apa nggak kasihan dengan teman-temanmu kalau tidak lulus? Kamu harus gunakan kepandaianmu supaya teman-temanmu lulus,” ujar Ny. S menirukan ucapan sang wali kelas pada anaknya.
Mendengar penuturan anaknya, Ny. S mengaku sakit hati dengan wali kelas tersebut dan berusaha mengkonfirmasi pihak sekolah. Dia berkoordinasi dengan walimurid lainnya menemui Kepala Sekolah. Dalam pertemuan itu, Kepala Sekolah hanya menyampaikan permohonan maaf. Ini tidak memuaskan Ny. S. Dia penasaran, apakah skenario contek mencontek ini memang didesain pihak sekolah, atau hanya dilakukan secara pribadi oleh wali murid. ”Tidak ada tindak lanjutnya sejak itu. Saya belum pernah ketemu sama Fat, wali kelas anak saya,” kata dia.
Setelah itu, dia mengadu pada Komite Sekolah, namun tidak mendapat respon memuaskan sehingga akhirnya dia melaporkan masalah ini ke Dinas Pendidikan. ”Saya tidak terima! Saya mendidik anak saya supaya pandai dan jujur. Ini malah sekolah mengajarkan anak saya tidak jujur !” ungkap Ny. S dengan nada tinggi.(edy)
Dinas Pendidikan Bentuk Tim, Investigasi Kasus Contek di SD Tandes
suarasurabaya.net| Dinas Pendidikan Kota Surabaya akan membentuk tim untuk menginvestigasi laporan Ny. S wali murid sebuah SDN di kawasan tandes terkait aktivitas contek mencontek pada pelaksanaan Ujian Nasional. Ditengarai, pihak sekolah mengetahui, atau bahkan merancang operasi ini agar seluruh siswanya lulus semua dalam Ujian Nasional.
SAHUDI Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya pada suarasurabaya.net, Kamis (02/06) mengatakan dirinya belum mendapat laporan langsung terkait kasus ini meskipun orang tua siswa sudah melaporkannya ke Dinas Pendidikan, kemarin. Oleh dari itu menurut rencana, Senin (06/06) mendatang, dia akan mengundang orang tua siswa itu untuk didengarkan keterangannya.
”Pada prinsipnya, kami akan tindak lanjuti serius laporan ini. Jika memang benar, saya akan usulkan ke Walikota Surabaya untuk menindak Kepala Sekolah dan Guru yang bertanggungjawab atas kejadian ini,” kata SAHUDI.
Mantan Kepala SMAN 15 Surabaya ini mengaku tidak habis pikir kenapa untuk Ujian Nasional SD saja, pihak sekolah melakukan hal tidak jujur seperti ini,. ”Padahal untuk UN SD, kita tidak mematok nilai minimal kelulusan seperti untuk SMP dan SMA. Nilai kelulusannya diserahkan ke sekolah masing-masing. Makanya saya heran kenapa sekolah itu malah melakukan perbuatan seperti ini,” kata dia.
Untuk memperoleh fakta kejadian yang sesungguhnya, kata SAHUDI, aparat Dinas Pendidikan Kota Surabaya akan diturunkan ke sekolah itu. Dari sana akan diambil kebijakan yang tepat untuk sekolah ini.
Apakah ada kemungkinan UN ulang jika terbukti ada perbuatan curang dalam pelaksanaan UN? SAHUDI mengatakan kemungkinan itu ada jika dalam hasil temuan tim memperkuat dugaan kecurangan.
”Nilai siswa itu biasanya ada pola normalnya. Kalau ada pola yang tidak normal, misalkan 85 persen siswa dapat nilai sama-sama bagus atau sama-sama jelek. Itu memperkuat dugaan kecurangan. Tapi kalau polanya normal-normal saja, tidak akan dilakukan UN ulang,” kata dia.
Jika memang terbukti ada kecurangan dalam UN di SDN tersebut, SAHUDI menyayangkannya karena pendidikan di sekolah formal bukan hanya soal kelulusan, tapi juga soal pembentukan karakter siswa. ”Kalau satu sekolah diajak kerjasama untuk contek mencontek, ini malah menghancurkan karakter siswanya,” papar dia.(edy)
SAHUDI Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya pada suarasurabaya.net, Kamis (02/06) mengatakan dirinya belum mendapat laporan langsung terkait kasus ini meskipun orang tua siswa sudah melaporkannya ke Dinas Pendidikan, kemarin. Oleh dari itu menurut rencana, Senin (06/06) mendatang, dia akan mengundang orang tua siswa itu untuk didengarkan keterangannya.
”Pada prinsipnya, kami akan tindak lanjuti serius laporan ini. Jika memang benar, saya akan usulkan ke Walikota Surabaya untuk menindak Kepala Sekolah dan Guru yang bertanggungjawab atas kejadian ini,” kata SAHUDI.
Mantan Kepala SMAN 15 Surabaya ini mengaku tidak habis pikir kenapa untuk Ujian Nasional SD saja, pihak sekolah melakukan hal tidak jujur seperti ini,. ”Padahal untuk UN SD, kita tidak mematok nilai minimal kelulusan seperti untuk SMP dan SMA. Nilai kelulusannya diserahkan ke sekolah masing-masing. Makanya saya heran kenapa sekolah itu malah melakukan perbuatan seperti ini,” kata dia.
Untuk memperoleh fakta kejadian yang sesungguhnya, kata SAHUDI, aparat Dinas Pendidikan Kota Surabaya akan diturunkan ke sekolah itu. Dari sana akan diambil kebijakan yang tepat untuk sekolah ini.
Apakah ada kemungkinan UN ulang jika terbukti ada perbuatan curang dalam pelaksanaan UN? SAHUDI mengatakan kemungkinan itu ada jika dalam hasil temuan tim memperkuat dugaan kecurangan.
”Nilai siswa itu biasanya ada pola normalnya. Kalau ada pola yang tidak normal, misalkan 85 persen siswa dapat nilai sama-sama bagus atau sama-sama jelek. Itu memperkuat dugaan kecurangan. Tapi kalau polanya normal-normal saja, tidak akan dilakukan UN ulang,” kata dia.
Jika memang terbukti ada kecurangan dalam UN di SDN tersebut, SAHUDI menyayangkannya karena pendidikan di sekolah formal bukan hanya soal kelulusan, tapi juga soal pembentukan karakter siswa. ”Kalau satu sekolah diajak kerjasama untuk contek mencontek, ini malah menghancurkan karakter siswanya,” papar dia.(edy)
Selasa, 31 Mei 2011
Lembaga bimbingan belajar Surabaya snmptn
lembaga bimbingan belajar surabaya snmptn di surabaya adalah lembaga bimbingan belajar suprauno. lembaga bimbingan belajar ini di buat untuk meningkatkan prestasi siswa yang ada di daerah sekitar lembaga bimbingan belajar surabaya.
lembaga bimbingan belajar surabaya snmptn ini menawarkan 2 jasa les yaitu les privat dan les kelas. kalau les privat guru datang kerumah sedangkan les kelas siswa datang ke tempat lembaga bimbingan belajar surabaya ini.
Di lembaga bimbingan belajar surabaya snmptn ini dalam pelaksanaan les privat terdiri dari satu guru dan satu siswa tidak boleh lebih. hal ini di karenakan pembelajaran tersebut sangat efektif demi peningkatan kualitas siswa. karena siswa langsung mendengarkan pemaparan sang guru dengan detil. selain itu apabila ada kesulitan siswa dapat langsung bertanya dan di jawab dengan guru tersebut dengan gamblang.
sedangkan les kelas di lembaga bimbingan surabaya snmptn ini di adakan di sebuah tempat yakni di lembaga bimbingan belajar suprauno. ada 2 tempat yang di sediakan oleh lembaga bimbingan belajar surabaya ini.
yang pertama ada di surabaya dan yang kedua ada di sidoarjo. lembaga bimbingan belajar surabaya snmptn ini berada di jl kedungtarukan baru 4b no 15. sedangkan yang di sidoarjo berada di perumahan jaya sedati regency blok L no 1A dan 1C.
bagi anda yang sednag memiliki maslah dengan putra anda. nilai menurun, prestasi tetap kurang, tidak semangat belajar dan lainnya, kami siap membantu melalui lembaga bimbingan belajar surabaya snmptn ini.
untuk menghubungi lembaga bimbingan belajar surabaya snmptn bisa di no fleksi dan mentara, yaitu di 83314333 atau 085852455588. silahkan hubungi kami mendaftar langsung atau hanya sekedar tanya.
di lembaga bimbingan belajar surabaya snmptn ini juga menerapkan sistem kecerdasan multi intelegensi. jadikami menghargai dan mengembangkan semua kecerdasan yang di miliki siswa.
makanya di lembaga bimbingan belajar surabaya snmptn ini di pelajari semua bidang studi yangdi ajarkan di sekolah agar siswa tidak menonjol pada satu pelajaran saja melain semua pelajaran.
lembaga bimbingan belajar surabaya snmptn ini menawarkan 2 jasa les yaitu les privat dan les kelas. kalau les privat guru datang kerumah sedangkan les kelas siswa datang ke tempat lembaga bimbingan belajar surabaya ini.
Di lembaga bimbingan belajar surabaya snmptn ini dalam pelaksanaan les privat terdiri dari satu guru dan satu siswa tidak boleh lebih. hal ini di karenakan pembelajaran tersebut sangat efektif demi peningkatan kualitas siswa. karena siswa langsung mendengarkan pemaparan sang guru dengan detil. selain itu apabila ada kesulitan siswa dapat langsung bertanya dan di jawab dengan guru tersebut dengan gamblang.
sedangkan les kelas di lembaga bimbingan surabaya snmptn ini di adakan di sebuah tempat yakni di lembaga bimbingan belajar suprauno. ada 2 tempat yang di sediakan oleh lembaga bimbingan belajar surabaya ini.
yang pertama ada di surabaya dan yang kedua ada di sidoarjo. lembaga bimbingan belajar surabaya snmptn ini berada di jl kedungtarukan baru 4b no 15. sedangkan yang di sidoarjo berada di perumahan jaya sedati regency blok L no 1A dan 1C.
bagi anda yang sednag memiliki maslah dengan putra anda. nilai menurun, prestasi tetap kurang, tidak semangat belajar dan lainnya, kami siap membantu melalui lembaga bimbingan belajar surabaya snmptn ini.
untuk menghubungi lembaga bimbingan belajar surabaya snmptn bisa di no fleksi dan mentara, yaitu di 83314333 atau 085852455588. silahkan hubungi kami mendaftar langsung atau hanya sekedar tanya.
di lembaga bimbingan belajar surabaya snmptn ini juga menerapkan sistem kecerdasan multi intelegensi. jadikami menghargai dan mengembangkan semua kecerdasan yang di miliki siswa.
makanya di lembaga bimbingan belajar surabaya snmptn ini di pelajari semua bidang studi yangdi ajarkan di sekolah agar siswa tidak menonjol pada satu pelajaran saja melain semua pelajaran.
Langganan:
Postingan (Atom)